Suasana Auditorium Gedung Damar Telkom University terasa istimewa pada Rabu pagi, 9 September 2026. Pimpinan perguruan tinggi, akademisi, perwakilan pemerintah, dan mitra industri dari Jawa Barat dan Banten berkumpul untuk satu momentum penting: pembukaan IMPACT-EDU 2026 sekaligus peresmian Konsorsium AI LLDIKTI Wilayah IV.
Mengusung tema “Sustainable Impact in Teaching and Learning through Pentahelix Collaboration“, kegiatan akademik internasional ini digagas Telkom University bersama LLDIKTI Wilayah IV sebagai forum kolaboratif yang mempertemukan ekosistem pentahelix; akademisi, pemerintah, industri, komunitas, dan media. Rangkaian ini menjadi puncak dari perjalanan panjang sejak pre-event pada 10 Juni 2026, dan dirancang untuk memperkuat implementasi Outcome-Based Education (OBE), transformasi pembelajaran digital, serta integrasi kecerdasan buatan (AI) demi menciptakan dampak yang terukur dan berkelanjutan di perguruan tinggi.
Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Lukman, membuka rangkaian sambutan dengan menjelaskan latar belakang lahirnya Konsorsium AI. Konsorsium ini dibentuk melihat perkembangan dan kebutuhan terhadap kecerdasan buatan di lingkungan perguruan tinggi.
Dari 415 perguruan tinggi swasta aktif di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV, ditambah 13 perguruan tinggi negeri dan sejumlah kampus asing seperti Monash University, Lancaster University dan Deakin University yang beroperasi di kawasan ini, baru sedikit yang memiliki program studi khusus AI. Di antaranya adalah D4 Kecerdasan Buatan dan Robotik Universitas Pakuan, S1 Kecerdasan Buatan STMIK, serta S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan UNIKOM.
Namun, potensinya jauh lebih besar. Dari sekitar 3.115 program studi aktif di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV, tercatat 452 program studi yang tersebar di 214 perguruan tinggi dinilai siap turut mengembangkan penerapan AI. Data itulah yang menjadi dasar pembentukan Konsorsium AI.
“Saat ini, peran yang kita ambil di dunia AI lebih banyak sebagai pengguna daripada pengembang. Oleh karena itu, kita berharap akan mengembangkan suatu ekosistem AI,” ujar Lukman.
Ia menegaskan, ekosistem yang dimaksud bukan sekadar infrastruktur teknologi, melainkan jaringan yang melibatkan pemerintah, institusi pendidikan, dan periset, sekaligus menumbuhkan budaya inovasi, kolaborasi, dan tata kelola etika. Lukman secara khusus menyoroti isu etika digital yang menurutnya kini menjadi tantangan nyata di kampus.
Konsorsium AI, lanjutnya, akan berjalan selama empat tahun ke depan dengan target-target terukur, melibatkan puluhan perguruan tinggi seperti ITENAS dan UNIKOM, dari total sekitar 90 kampus yang sudah bergabung menuju target 415 perguruan tinggi swasta di wilayah ini. Model kolaborasi yang dibangun mengadopsi pendekatan berbagi sumber daya (resource sharing), di mana kampus utama berperan sebagai hub penyedia infrastruktur komputasi dan keahlian, sementara kampus anggota berkontribusi lewat data riset dan implementasi kurikulum, diperkuat dengan kesepakatan bersama (MoU/MoA) yang memayungi pengakuan kredit antarkampus dan riset bersama. Program ini juga didukung sejumlah kemitraan strategis, di antaranya dengan PT Telkom, program AI Ready ASEAN bersama Ruangguru dan ASEAN Foundation, serta kolaborasi dengan Google Indonesia.
“Kolaborasi ini bukan hanya milik PTN, milik PTS, tapi milik kita bersama,” kata Lukman menutup bagian sambutannya.
Ketua Konsorsium AI, Luthfi Nurwandi, menjelaskan visi dan arah konsorsium AI untuk menjadi pusat kolaborasi unggulan bidang AI bagi perguruan tinggi se-Jawa Barat dan Banten, dengan landasan etika yang berpusat pada manusia serta daya saing global dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi.
Semangat itu turut dikuatkan oleh Rektor Telkom University, Prof. Suyanto. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berhenti di ruang kelas, melainkan harus menjadi solusi nyata bagi masyarakat, mitra strategis bagi industri, dan kontributor aktif bagi pembangunan pendidikan tinggi nasional.
Suyanto turut memperkenalkan tiga program unggulan dalam rangkaian IMPACT-EDU 2026, yakni Innosphere Research Competition, Student Learning Innovation Foster Competition, dan Teaching and Learning Innovation Showcase. Ia menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa seluruh capaian ini adalah buah kerja sama lintas pihak: “None of these achievements were built alone. They are the result of strong collaborations among government, academia, and industry.“
Mewakili Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. dr. Ardi Findyartini selaku Direktur Strategi & Sistem Pembelajaran Transformatif membuka secara resmi konferensi ini melalui pidatonya. Ia mengingatkan bahwa perkembangan AI kini telah melampaui AI generatif dan memasuki tahap AI yang bisa ikut mengambil keputusan (agentic AI) — mengutip peringatan peraih Nobel, Geoffrey Hinton soal pentingnya kebijaksanaan dalam mengembangkan teknologi ini.
Prinsip yang ia tekankan sederhana: manusia harus tetap menjadi pusat pengambilan keputusan. “The question will be how we can still assure that the use of AI is still centralized in the human decision and human ethical responsibility. Human-centered AI,” katanya.
Kegiatan ini juga dihadiri secara hybrid oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, M. Samsuri. Melalui aplikasi daring, ia mengajak perguruan tinggi mengubah cara pandang terhadap dampak riset: bukan lagi sekadar mengejar jumlah publikasi ilmiah, melainkan rantai dampak yang utuh. Mulai dari pembelajaran, riset, publikasi, hingga pemanfaatan pengetahuan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Ia menguraikan peran lima aktor dalam kolaborasi pentahelix. Akademisi menghasilkan riset dan SDM berkualitas, industri menyerap dan mengomersialkan hasil riset, pemerintah menyusun regulasi dan insentif, komunitas menyampaikan kebutuhan nyata, dan media menyebarluaskan informasi serta mengawal transparansi kolaborasi.
Penyampaian laporan rangkaian kegiatan IMPACT-EDU 2026 ini juga disampaikan oleh Direktur Akademik Telkom University, Dr. Tora Fahrudin, ia memaparkan empat pilar tematik IMPACT-EDU 2026: pemanfaatan AI untuk transformasi pembelajaran digital, praktik baik pendidikan transnasional, penerapan Outcome-Based Education (OBE) yang didukung AI secara menyeluruh, dan penguatan OBE lewat pembelajaran berbasis proyek.
Perspektif internasional hadir lewat profesor dari Monash University, Dr. Stephen Cairns, yang berbagi pengalaman lima tahun kampusnya beroperasi di Cisauk, Banten.
Cairns memperkenalkan konsep “anchor institution” atau institusi jangkar dengan empat peran: builder (membangun relasi lewat riset dan pendidikan), broker (mempertemukan industri, komunitas, dan media), beacon (menjadi contoh nyata kolaborasi riset dan pengajaran), dan base (tetap relevan bagi masyarakat sekitar kampus)
Ia turut menunjukkan bagaimana data seperti nighttime light dapat memetakan kesenjangan ekonomi antara Jakarta dan wilayah selatan Banten yang padat penduduk namun tertinggal dalam layanan kesehatan, sebuah pendekatan riset yang kini bisa dilakukan siapa saja berkat bantuan AI.
“AI is very, very powerful because it’s now allowed you to do coding, even if you’re not an expert,” ujarnya.
Dukungan dari sisi industri teknologi disampaikan oleh Olivia Husli Basrin dari Google for Education. Sebagai bentuk komitmen jangka panjang untuk pendidikan Indonesia, Google memperkenalkan inisiatif Google AI Learning Lab, kemitraan dengan universitas untuk mendukung riset akademik sekaligus menjadi pusat inovasi bagi UMKM dan komunitas lokal. Inisiatif ini telah hadir di UNIKOM Bandung dan Universitas Multimedia Nusantara, serta di Malaysia dan Singapura, dengan target sepuluh AI Lab baru di Indonesia pada tahun ini.
Momentum hari itu juga ditandai dengan pengumuman penting lain, yakni penyerahan SK pembukaan Program Studi Kedokteran Telkom University yang diserahkan secara langsung. Program Studi Kedokteran ini dirancang untuk mengintegrasikan keunggulan riset AI Telkom University guna mempercepat proses diagnosis dan pengambilan keputusan medis, sejalan dengan semangat Konsorsium AI yang tengah dibangun.
Di sela rangkaian acara, LLDIKTI Wilayah IV turut mengumumkan total donasi kemanusiaan bertajuk “Sabilulungan Bantu Warga Terdampak Gempa di Nusa Tenggara Timur dari Sivitas Akademika LLDIKTI Wilayah IV Tahun 2026”. Dalam waktu kurang dari seminggu, donasi yang berhasil terkumpul mencapai Rp148.731.345.
Dari Auditorium Gedung Damar Telkom University, semangat kolaborasi lintas pentahelix itu menemukan bentuknya yang nyata: bukan lagi sekadar wacana, melainkan konsorsium, peta perjalanan, kemitraan teknologi global, dan uluran tangan kemanusiaan yang lahir dari kerja sama bersama. IMPACT-EDU 2026 dan Konsorsium AI LLDIKTI Wilayah IV pun resmi bergulir, membawa harapan baru bagi transformasi pendidikan tinggi di Jawa Barat dan Banten menuju Indonesia Emas 2045.

