LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI WILAYAH IV

Bakar Sampah Residu Pakai ‘Api Dingin’ Buatan Unisba

Bakar sampah yang biasanya identik dengan api dan asap sekarang sudah tidak zaman lagi. Selain menambah polusi udara, sisa pembakarannya pun tidak sepenuhnya ludes dilahap api.

Melihat peluang tersebut, Universitas Islam Bandung (Unisba) memperkenalkan inovasi baru dalam pengolahan sampah melalui reaktor plasma dingin. Teknologi ini akan diuji coba bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV sebagai alternatif untuk mengurangi timbunan sampah di kawasan Jawa Barat dan Banten, termasuk lingkungan kampus.

Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Lukman menyebutkan, uji coba merupakan tahap awal sebelum pemanfaatan lebih luas. 

“Alat pengolah sampah berbasis reaktor plasma ini akan kita uji coba terlebih dahulu. Meski memang sudah ada beberapa wilayah yang menggunakan, yakni di Bali, dan rencananya di Arcamanik Bandung oleh Pemprov Jawa Barat. Kalau secara value lebih ekonomis dan prosesnya lebih baik, maka bisa kita coba duplikasi untuk disebarkan ke kampus-kampus di Jawa Barat dan Banten,” terangnya.

Ketua Tim Peneliti Unisba, Prof. Ina Helena Agustina menegaskan, reaktor plasma lebih unggul dibandingkan insinerator konvensional. Sebab, insinerator hanya bisa mengolah sampah kering. Sementara reaktor plasma mampu mengolah sampah campuran, termasuk sampah basah seperti popok sekali pakai dan pembalut, dengan prinsip plasma dingin.

“Dari kapasitas, reaktor plasma mampu mengolah hingga 1 ton sampah per jam. Proses ini menyelesaikan sekitar 44 persen volume sampah, menghasilkan residu dalam jumlah kecil, pupuk cair premium, dan sekitar 20 persen oksigen yang dapat dimanfaatkan kembali,” jelas Ina.

Sementara itu, insinerator hanya membakar sampah kering dengan sisa berupa abu, tanpa produk samping yang bermanfaat. Dari sisi lingkungan, pembakaran insinerator berpotensi menghasilkan emisi berbahaya, sedangkan plasma menghasilkan output yang lebih ramah lingkungan.

Ia juga menyebutkan, meski investasi awal pembuatan reaktor plasma memang cukup tinggi, mencapai lebih dari Rp700 juta. Namun, biaya operasionalnya relatif ringan. Untuk kapasitas 300 ton per bulan, biaya yang diperlukan hanya sekitar Rp8 juta dengan konsumsi listrik sekitar 6.000 watt untuk 10 jam operasional per hari.

“Sebaliknya, penggunaan insinerator membutuhkan biaya operasional lebih tinggi karena hanya mampu mengolah sebagian sampah (kering) dan tidak memberi nilai tambah berupa produk sampingan,” ungkapnya.

Melalui teknologi ini, Unisba mendorong inisiatif Carbon Credit Campus yang berfokus pada pengurangan emisi dan penerapan solusi berkelanjutan di lingkungan pendidikan. Kehadiran reaktor plasma diharapkan menjadi salah satu pilar pendukung inisiatif tersebut. Ina menuturkan, inovasi ini bukan sekadar alat teknis, melainkan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menjawab tantangan lingkungan. 

“Dengan reaktor plasma, kita tidak sekadar membuang sampah, tetapi mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Ini bisa menjadi bagian dari upaya kampus menuju zero waste,” ujarnya.

LLDIKTI Wilayah IV optimistis uji coba ini akan menunjukkan efektivitas teknologi plasma. Jika terbukti efisien, alat tersebut akan didorong untuk digunakan secara luas di berbagai kampus Jawa Barat dan Banten sebagai solusi komprehensif pengelolaan sampah.

Share:

More Posts