Penelitian tak selalu lahir dari ruang yang sempurna. Ia berawal dari rasa ingin tahu dan kegelisahan terhadap persoalan di sekitar. Hingga menghasilkan keberanian seorang mahasiswa untuk bertanya: “Bagaimana jika ini bisa menjadi solusi dan dampak baik bagi masyarakat?”
Semangat itulah yang terasa dalam Student Publication and Research Knowledge Sharing (SPARKS) 2026 yang diinisiasi LLDIKTI Wilayah IV bersama Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI). SPARKS merupakan episode 4 dari Program Gerakan Akademisi Bersinergi dan Berinovasi (GRADASI).
Selama dua hari, Kamis-Jumat, 13-14 Agustus 2026, Gedung Diklat LLDIKTI Wilayah IV, Jatinangor menjadi ruang bertemunya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk berbagi gagasan, mempresentasikan hasil penelitian, sekaligus belajar mempertanggungjawabkan temuannya di hadapan para juri.
Antusiasme terhadap kegiatan perdana ini sudah terlihat sejak tahap pendaftaran. Sebanyak 590 peserta dari 87 perguruan tinggi mendaftarkan diri dengan submit paper. Setelah melalui proses seleksi, terpilihlah 182 peserta dari 55 perguruan tinggi untuk mempresentasikan hasil riset mereka secara langsung.
Para peserta kemudian dibagi ke dalam empat ruang presentasi dengan beragam topik penelitian, mulai dari farmasi, bioteknologi, kesehatan masyarakat dan epidemiologi, hingga pangan dan keberlanjutan pertanian.
Bagi Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Lukman kesempatan untuk mempresentasikan penelitian di hadapan reviewer merupakan bagian penting dari proses pembentukan seorang peneliti.
“Penelitian itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong,” tegas Lukman.
Menurutnya, 182 mahasiswa yang terpilih dalam SPARKS 2026 telah mengambil sebuah langkah besar. Mereka tidak hanya datang untuk menyampaikan hasil penelitian, tetapi juga “menguji nyali” dengan membuka gagasannya untuk mendapatkan kritik dan masukan.
“Dari sekian banyak yang mendaftar, ada 182 yang terpilih untuk uji nyali, diuji oleh reviewer dan editor. Bisa dicaci, bisa dikritik. Tapi, dari sanalah proses belajar sebagai peneliti dimulai,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika sudah masuk dalam dunia riset, bukan lagi bica tentang ‘siapa yang menyampaikan’, tapi ‘apa yang disampaikan’ menjadi kunci penting. Sehingga, ia berpesan agar para mahasiswa tidak merasa ‘kecil’ dengan statusnya karena mereka kelak akan menjadi bibit peneliti terbaik negeri ini.
Sementara itu, Ketua STFI, Dr. Apt. Adang Firmansyah, menilai SPARKS 2026 menjadi kegiatan yang strategis karena mempertemukan mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada riset dan publikasi dalam satu ruang yang sama.
Antusiasme tersebut, menurutnya, menjadi sinyal jika minat mahasiswa terhadap penelitian dan publikasi cukup besar. Terlebih, kegiatan ini merupakan penyelenggaraan perdana yang dirancang dan didukung bersama oleh LLDIKTI Wilayah IV dan STFI.
“Ini pertama kali kami melaksanakan kegiatan seperti ini, sehingga memang tidak ada model yang bisa langsung kami adopsi. Kami mencoba membangun modelnya bersama LLDIKTI Wilayah IV,” kata Adang.
Ia berharap, SPARKS tidak berhenti sebagai sebuah konferensi, tetapi berkembang menjadi ruang yang mempertemukan mahasiswa lintas perguruan tinggi untuk saling bertukar pengetahuan, membangun jejaring, dan membuka peluang kolaborasi.
Selama ini, kolaborasi antarperguruan tinggi kerap berlangsung pada level pimpinan maupun institusi. Melalui SPARKS, ruang kolaborasi tersebut diperluas hingga ke mahasiswa sebagai calon peneliti dan inovator.
“Ini menjadi tempat mahasiswa berkumpul untuk menyampaikan hasil risetnya. Mereka bisa berkolaborasi, bukan hanya pimpinan perguruan tingginya. Dengan begitu, jejaring pendidikan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV bisa semakin kuat,” ucapnya.
Dari ruang-ruang presentasi SPARKS 2026, gagasan-gagasan kecil mahasiswa pun mendapat kesempatan untuk didengar. Ada penelitian yang masih perlu diolah lebih matang, ada temuan yang masih membutuhkan pengembangan, dan ada pula gagasan yang berpotensi dilanjutkan menjadi inovasi.
Namun, justru di situlah nilai penting kegiatan ini yakni memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar bahwa penelitian bukan sekadar menghasilkan jawaban, melainkan juga berani menguji jawaban tersebut. Adang menyebutkan, para peserta SPARKS sebagai bagian dari generasi yang kelak dapat mengisi ekosistem penelitian dan inovasi Indonesia.
“Ini adalah calon peneliti, inovator, dan kolaborator masa depan Indonesia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ke depan, model SPARKS diharapkan dapat berkembang ke berbagai bidang keilmuan lainnya. Tidak hanya farmasi dan bidang kesehatan, tetapi juga ekonomi, hukum, pendidikan, maupun bidang-bidang lain dengan melibatkan perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV sebagai tuan rumah.
Dengan demikian, SPARKS diharapkan dapat menjadi salah satu wadah bersama bagi perguruan tinggi untuk mendorong diseminasi publikasi dan hasil penelitian mahasiswa. Sebuah ekosistem yang tidak hanya melahirkan mahasiswa berprestasi, tetapi juga menumbuhkan budaya riset, publikasi, kolaborasi, dan keberanian untuk berbagi pengetahuan.
“Pelaksanaan SPARKS 2026 akan menjadi pijakan untuk penyelenggaraan berikutnya. Setelah kegiatan berakhir, panitia akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk melihat berbagai hal yang sudah berjalan baik maupun yang masih perlu diperbaiki. Kami juga siap berbagi pengalaman kepada perguruan tinggi lain yang nantinya akan menggagas SPARKS berikutnya,” tuturnya.
Pada akhirnya, SPARKS 2026 bukan hanya tentang 182 mahasiswa yang mempresentasikan penelitian. Lebih dari itu, konferensi ini adalah tentang keberanian untuk membawa sebuah gagasan keluar dari layar laptop dan laboratorium, lalu mempertemukannya dengan pertanyaan, kritik, dan perspektif orang lain.
Sebab, sebuah penelitian mungkin belum sempurna ketika pertama kali dipresentasikan. Tetapi keberanian untuk memulainya, mempertanggungjawabkannya, dan terus memperbaikinya, itulah yang perlahan membentuk seorang peneliti berkualitas.
Setelah perjalanan panjang yang dilalui, berikut para peserta yang berhasil meraih X terbaik:
Pemenang Kategori Riset di Bidang Bioteknologi dan Biologi Molekular Kesehatan:
Juara 1: Siti Fatimah – Universitas Swadaya Gunung Jati
Juara 2: Nirmala Rabithah – Universitas Perjuangan Tasikmalaya
Juara 3: Eka Triwulandari – Universitas Bakti Tunas Husada
Pemenang Kategori Riset di Bidang Pangan dan Keberlanjutan Pertantian:
Juara 1: Kusniatun Nurafifah – Universitas Wiralodra
Juara 2: Ahmad Ikhsan Maulana – Universitas Pendidikan Indonesia
Juara 3: Lulu Raudatul Zannah – Universitas Majalengka
Pemenang Kategori Riset Bidang Kesehatan Masyarakat dan Epidemiologi:
Juara 1: Rosmini – Universitas Garut
Juara 2: Nova Puspita – Universitas Bhakti Husada Indonesia
Juara 3: Alvandra Dwi Zalfa Athallah – Universitas Islam Bandung
Pemenang Kategori Riset Farmasi dan Pengembangan Produk Kesehatan:
Juara 1: Kurnia Puteri Agustina – Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia
Juara 2: Asep Nur Wahid – Akademi Farmasi YPF
Juara 3: Omsah – STIKES Salsabila Serang


