LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI WILAYAH IV

Menjaga Bumi dari Kampus: Refleksi Akademik Prof. Delly Maulana tentang Pembangunan Berkelanjutan

Pagi di rumah itu dimulai dengan kebiasaan yang sederhana namun disiplin. Di sudut dapur, tiga wadah berbeda telah disiapkan: sampah organik, nonorganik, dan bahan berbahaya. Tidak ada tumpukan yang dibiarkan membusuk, tidak pula bau yang mengganggu. Semua tertata rapi, seperti sebuah ritual kecil yang dijalankan setiap hari.

Bagi Prof. Dr. Delly Maulana, M.PA, seorang professor Universitas Serang Raya di wilayah LLDIKTI Wilayah IV, kebiasaan itu bukan sekadar praktik rumah tangga. Ia adalah cerminan dari keyakinan yang lebih besar: bahwa masa depan lingkungan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau forum internasional, melainkan dari kesadaran sederhana yang dijalankan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Gelar profesor yang kini disandangnya merupakan puncak dari perjalanan akademik yang panjang. Jalan menuju jabatan tersebut tidak selalu mudah. Standar publikasi ilmiah yang semakin tinggi, tuntutan artikel pada jurnal bereputasi internasional, hingga kewajiban memenuhi angka kredit kumulatif (kum) menjadi rangkaian proses yang harus dilalui dengan kesabaran dan ketekunan. Ia menggambarkan proses itu dengan kalimat sederhana, namun sarat makna: perjalanan menjadi profesor “tidak segampang membalikkan telapak tangan”.

Namun di balik proses administratif dan akademik tersebut, tersimpan kegelisahan intelektual yang lebih mendalam. Sejak awal, perjalanan akademiknya tidak pernah sepenuhnya terlepas dari isu lingkungan. Sebelum berkiprah di bidang Administrasi Publik, Prof. Delly Maulana menempuh pendidikan di Ilmu Kelautan. Dunia pesisir, keragaman biota laut, dan dinamika ekosistem menjadi ruang belajar pertamanya. Dari sana tumbuh kepekaan terhadap hubungan antara manusia dan alam.

Perpindahan disiplin ke bidang administrasi publik tidak memutus keterkaitan itu. Justru sebaliknya, pengalaman lintas disiplin tersebut membentuk cara pandang yang lebih komprehensif. Persoalan lingkungan, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga dengan bagaimana kebijakan dirancang, diimplementasikan, dan diawasi. Lingkungan adalah persoalan ekologi sekaligus persoalan tata kelola.

Salah satu momentum penting dalam perjalanan akademiknya hadir ketika ia memperoleh hibah penelitian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada periode 2024–2025. Di tengah berbagai keterbatasan pendanaan riset di perguruan tinggi, dukungan tersebut menjadi penguat bagi keberlanjutan penelitian dan publikasi ilmiahnya.

Ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. Baginya, program hibah tersebut tidak hanya menyediakan dukungan finansial, tetapi juga memperlihatkan komitmen negara dalam mendorong penelitian yang berdampak bagi masyarakat. Dukungan seperti ini, menurutnya, menjadi energi penting bagi para akademisi untuk terus menghasilkan gagasan dan inovasi.

Sebagai bagian dari civitas academica di wilayah LLDIKTI Wilayah IV, ia memaknai jabatan guru besar sebagai tanggung jawab sosial yang semakin besar. Capaian akademik tidak seharusnya berhenti pada prestasi personal. Justru ketika seorang akademisi mencapai puncak kariernya, kewajiban moral untuk berkontribusi pada masyarakat dan pembangunan menjadi semakin kuat.

Kegelisahan tersebut berangkat dari realitas pembangunan yang ia amati selama ini. Ekspansi industri, pembangunan infrastruktur, dan eksploitasi sumber daya alam terus berlangsung dengan cepat. Pertumbuhan ekonomi kerap dijadikan indikator utama keberhasilan pembangunan. Namun dalam banyak kasus, keseimbangan ekologis tidak memperoleh perhatian yang setara.

Jika kecenderungan ini terus berlangsung tanpa koreksi, ia mengingatkan bahwa berbagai bencana lingkungan akan semakin sering terjadi. Banjir, kerusakan pesisir, degradasi lahan, hingga krisis sumber daya air bukan sekadar peristiwa alam. Semua itu adalah konsekuensi dari keputusan manusia yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Dalam konteks kebijakan publik, ia menyoroti praktik analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang sering kali diperlakukan sebagai prosedur administratif semata. Hampir semua proyek pembangunan memilikinya, tetapi tidak selalu dijadikan pedoman dalam pelaksanaan di lapangan. Padahal, AMDAL seharusnya menjadi instrumen strategis untuk memastikan pembangunan tetap berjalan dalam koridor keberlanjutan. Ketika fungsi tersebut hanya berhenti pada dokumen formal, maka makna sebenarnya dari kebijakan lingkungan menjadi hilang.

Di sinilah ia melihat peran penting perguruan tinggi. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga pusat produksi gagasan. Akademisi memiliki tanggung jawab untuk memetakan persoalan, menyusun agenda strategis, serta menawarkan solusi berbasis riset.

Dunia akademik memiliki legitimasi intelektual untuk menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pembuat kebijakan. Meski demikian, ia juga menyadari bahwa tidak selalu mudah bagi suara akademisi untuk menjangkau ruang pengambilan keputusan. Dialog antara kampus dan pemerintah sering kali menghadapi berbagai keterbatasan. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga pendekatan yang solutif. Kritik perlu disampaikan secara konstruktif, dengan tetap menawarkan alternatif pemikiran yang dapat menjadi dasar perbaikan kebijakan.

Bagi Prof. Delly Maulana, integritas merupakan nilai yang tidak dapat ditawar dalam dunia akademik. Sejak awal kariernya, ia menempatkan etika sebagai fondasi utama. Ia bersikap tegas terhadap berbagai bentuk pelanggaran akademik, karena baginya gelar dan jabatan tidak memiliki arti jika diperoleh dengan cara yang mencederai nilai moral.

Ketika telah mencapai jabatan profesor, tanggung jawab tersebut justru menjadi semakin besar. Seorang guru besar bukan hanya penghasil karya ilmiah, tetapi juga teladan dalam menjaga integritas akademik.

Isu keberlanjutan sendiri, menurutnya, tidak akan pernah kehilangan relevansi. Selama manusia hidup berdampingan dengan alam dan pembangunan terus berlangsung, maka pertanyaan tentang keseimbangan ekologis akan selalu muncul. Tantangan terbesar bukan sekadar menemukan solusi teknis, melainkan mengubah cara pandang masyarakat dari orientasi jangka pendek menuju visi jangka panjang. Tindakan sederhana seperti membuang sampah sembarangan mungkin tampak sepele, tetapi dalam jangka panjang dapat menjadi bagian dari rantai kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Karena itu, ia menaruh harapan besar pada generasi muda, khususnya mahasiswa. Perubahan iklim dan pemanasan global bukanlah isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia nyata dan berdampak langsung pada kehidupan manusia.

Mahasiswa perlu membangun kolaborasi lintas disiplin, termasuk dengan bidang teknik dan sains terapan, untuk melahirkan berbagai inovasi yang relevan dengan kebutuhan masa depan, mulai dari pengelolaan limbah hingga teknologi pengelolaan air.

Kampus, dalam pandangannya, harus menjadi ruang eksperimen bagi lahirnya solusi-solusi baru.

Kepada para dosen muda, pesannya sederhana: berkiprahlah secara maksimal di dunia akademik. Bangun relasi yang sehat dengan mahasiswa, jalankan tridarma perguruan tinggi dengan penuh tanggung jawab, dan jauhi jalan pintas yang dapat merusak integritas ilmiah. Reputasi akademik hanya dapat dibangun melalui konsistensi, kerja keras, dan komitmen terhadap nilai-nilai etika.

Di balik seluruh perjalanan akademiknya, tersimpan pula kisah personal yang membentuk ketangguhan dirinya. Ia kehilangan ayah sejak usia tiga tahun. Tidak ada warisan materi yang dapat ia terima. Yang diwariskan hanyalah dorongan untuk terus menempuh pendidikan. Dari pengalaman itulah ia memahami bahwa pendidikan adalah investasi paling berharga dalam kehidupan.

Pada akhirnya, perjalanan Prof. Dr. Delly Maulana, M.PA bukan hanya tentang seorang akademisi yang mencapai jabatan tertinggi dalam kariernya. Lebih dari itu, kisah ini menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan, etika, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat bertemu dalam satu perjalanan intelektual.

Di tengah arus pembangunan yang sering diukur melalui angka-angka pertumbuhan ekonomi, ia mengingatkan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh statistik pembangunan, tetapi oleh kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara alam dan kehidupan.

Dari ruang kuliah hingga kebiasaan sederhana memilah sampah di rumah, ia memperlihatkan satu pesan penting: keberlanjutan selalu dimulai dari kesadaran kecil yang dijalankan secara konsisten. Dan dalam proses itulah perguruan tinggi memainkan peran yang tidak tergantikan, yakni menjaga agar masa depan tetap memiliki arah, makna, dan harapan. (Kontributor: Liza Diniarizky Putri/Editor: Ahmad Fadhli)

Share:

More Posts