Kabut pagi perlahan turun dari perbukitan Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di Nagari Tanjung Sani, denting aktivitas warga mulai terdengar, menyatu dengan langkah-langkah yang kembali menata hari. Alam tampak tenang, namun jejak bencana masih terasa. Beberapa rumah belum sepenuhnya pulih, sebagian lahan masih menyimpan sisa lumpur, dan ingatan tentang banjir bandang serta longsor pada penghujung 2025 belum sepenuhnya hilang dari benak masyarakat.
Bencana itu datang tiba-tiba. Air meluap, tanah runtuh, akses jalan terputus, dan kehidupan berubah dalam hitungan jam. Warga harus mengungsi, kehilangan harta benda, bahkan anggota keluarga. Sejak saat itu, Tanjung Sani tidak hanya berjuang membangun kembali bangunan fisik, tetapi juga merajut ulang semangat dan harapan.
Di tengah proses pemulihan tersebut, dosen dan mahasiswa Universitas Djuanda hadir melalui Program Mahasiswa Berdampak Tahun 2026. Kehadiran mereka bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan menjadi bagian dari kehidupan nagari—tinggal bersama warga, mendengar cerita, bekerja, sekaligus belajar dari masyarakat.
Program Mahasiswa Berdampak lahir dari kesadaran bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu berbentuk bantuan instan. Di wilayah pascabencana, yang dibutuhkan adalah kehadiran yang konsisten, pendekatan yang manusiawi, serta solusi yang tumbuh dari kebutuhan riil warga. Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran kontekstual, mempertemukan ilmu pengetahuan dari kampus dengan realitas lapangan.

Sebelum mahasiswa diberangkatkan ke Sumatera Barat, Universitas Djuanda melalui Biro Pengabdian kepada Masyarakat dan Hilirisasi pada LP3K menggelar sosialisasi dan pembekalan bagi dosen dan mahasiswa. Dalam forum tersebut, peserta dibekali pemahaman tentang konteks kebencanaan, dinamika sosial masyarakat, serta pentingnya pendekatan partisipatif dalam setiap kegiatan pemberdayaan.
Komitmen universitas dalam program ini diperkuat oleh capaian pendanaan di tingkat nasional. Assoc. Prof. Dr. Helmi Haris, M.S., Dosen sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Pangan Halal Universitas Djuanda, berhasil memperoleh pendanaan Program Mahasiswa Berdampak Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program yang diusung berfokus pada pemberdayaan masyarakat dalam pemulihan dampak bencana di Nagari Tanjung Sani, dengan durasi pelaksanaan satu bulan penuh, dari akhir Januari hingga akhir Februari 2026.
Awal Februari 2026 menjadi titik dimulainya pengabdian di nagari. Penyambutan sederhana digelar di tingkat kanagarian dan dihadiri Wali Kanagarian, para Ketua Jorong, tokoh masyarakat, pengurus UMKM, serta unsur PKK. Wali Kanagarian Tanjung Sani, Mukhsin, S.Hum., dalam sambutannya menyampaikan harapan agar kehadiran mahasiswa dapat memperkuat upaya pemulihan yang sedang berjalan. Harapan itu bukan tentang hasil instan, melainkan proses yang dijalani bersama.
Hari-hari pertama diisi dengan aktivitas yang sederhana namun mendasar: berkenalan dan mendengarkan. Di Jorong Pantas dan Jorong Batunanggai, mahasiswa menyusuri lorong-lorong nagari, berbincang di teras rumah warga, serta mencatat pengalaman dan kebutuhan masyarakat pascabencana. Dari percakapan tersebut, mahasiswa memahami bahwa setiap keluarga memiliki cerita dan tantangan yang berbeda.

Salah satu momen yang membekas adalah kegiatan gotong royong membersihkan rumah ibadah. Tanpa jarak formal, mahasiswa dan warga bekerja bersama sejak pagi. Lumpur dibersihkan, lantai disapu, peralatan dibenahi. Di sela kegiatan, obrolan ringan mengalir, menghadirkan suasana kebersamaan. Kepercayaan tumbuh secara alami. Mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai pendatang, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang sedang bangkit.
Pendekatan sosial tersebut menjadi fondasi bagi program pemberdayaan selanjutnya. Setelah memahami kondisi lapangan, mahasiswa mulai mendampingi sektor ekonomi lokal. Mereka mengunjungi pelaku UMKM yang tetap bertahan pascabencana, termasuk usaha parfum rumahan dan perikanan. Dari hasil observasi dan diskusi, teridentifikasi sejumlah tantangan, seperti proses produksi yang masih sederhana, variasi produk terbatas, kemasan yang belum optimal, serta pemasaran yang belum terkelola secara sistematis.
Pendampingan dilakukan secara bertahap dan partisipatif. Mahasiswa membantu pelaku UMKM mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai langkah strategis untuk memperkuat legalitas dan membuka akses terhadap berbagai program pemberdayaan pemerintah. Proses ini sekaligus menjadi ruang literasi digital bagi masyarakat yang belum terbiasa dengan administrasi berbasis daring.
Shelfi Hendri, pelaku usaha parfum, mengaku memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya kemasan dan strategi pemasaran. Selama ini, produknya dipasarkan secara terbatas di lingkungan sekitar. Melalui diskusi dan pendampingan, ia mulai melihat peluang pengembangan usaha yang lebih terencana. Hal serupa dirasakan oleh pelaku usaha perikanan setempat yang mulai mengeksplorasi inovasi pengolahan hasil tangkapan untuk meningkatkan nilai tambah produk.
Selain pemberdayaan ekonomi, mahasiswa juga terlibat dalam kegiatan sosial dan spiritual masyarakat. Pengajian bersama ibu-ibu di masjid Jorong Batunanggai dan Jorong Pantas menjadi ruang penguatan mental pascabencana sekaligus mempererat silaturahmi. Di sektor pendidikan, mahasiswa berinteraksi dengan siswa sekolah dasar setempat, memberikan motivasi belajar serta menumbuhkan kepedulian sosial.

Bagi masyarakat Tanjung Sani, kehadiran mahasiswa membawa semangat baru. Bukan semata karena besarnya program, melainkan karena kesediaan mereka untuk tinggal, mendengar, dan menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan nagari. Sementara bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi pembelajaran bermakna yang tidak diperoleh di ruang kuliah. Mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan menemukan relevansinya ketika bersentuhan langsung dengan realitas sosial.
Program Mahasiswa Berdampak di Nagari Tanjung Sani menargetkan luaran yang terukur: terbangunnya hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat, terlaksananya pendampingan sesuai kebutuhan lokal, meningkatnya kapasitas sosial dan ekonomi warga, serta tumbuhnya kepekaan sosial mahasiswa. Lebih dari itu, program ini meninggalkan jejak emosional berupa kepercayaan dan harapan yang kembali tumbuh perlahan.
Ketika masa pengabdian berakhir, mahasiswa akan kembali ke Bogor. Namun Tanjung Sani akan tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka—sebagai ruang belajar tentang empati, ketangguhan, dan makna kehadiran.
Dari nagari di Sumatera Barat ini, Universitas Djuanda menegaskan peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis masyarakat. Kampus tidak berdiri jauh dari realitas sosial, melainkan hadir, mendengar, dan berjalan bersama. Di Tanjung Sani, Mahasiswa Berdampak membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi jembatan pemulihan, dan pengabdian adalah jalan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi sesama. (Kontributor: Acep Muhamad Rusman & Annisa Cikal Febrianti/Editor: Nabilla Anasty Fahzaria)
