Setelah berlangsung selama empat bulan sejak Mei, GRADASI Episode Dua: Publikasi Tuntas telah tiba di episode akhir. Bertempat di Universitas Widyatama, 90 peserta hadir secara hybrid, Jumat 15 Agustus 2025.
Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Lukman menyampaikan, Di Jawa Barat dan Banten masih ada 7.892 dosen yang belum memiliki publikasi artikel ilmiah. Oleh karena itu, LLDIKTI Wilayah IV menghadirkan solusi melalui kelas ini.
“Tulisan dari artikel yang telah terpublikasi menjadi pembeda bapak dan ibu dengan guru. Sebab, seorang dosen harus menjalankan tri dharma perguruan tinggi,” ujar Lukman.
Ia menyebutkan, terdapat 9.486 dosen yang belum memiliki jabatan fungsional. Sedangkan dosen yang menjabat sebagai profesor atau guru besar hanya berjumlah 376 orang.
“Dengan adanya kegiatan ini, kami ingin memfasilitasi bapak ibu untuk bisa memenuhi syarat kenaikan jabatan akademik. Sebab salah satu syarat wajibnya adalah memiliki artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal bereputasi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, workshop fasilitasi publikasi ilmiah bukan hanya sekadar pelatihan menulis, tapi juga didampingi sampai nanti submit atau masuk jurnal.
“Bagi yang sudah punya jabatan dan ingin naik, nanti dibimbing sampai minimal Sinta 2 dan sampai jurnal index Scopus,” tutur Lukman.
Namun, ia juga menekankan agar para penulis memperhatikan selingkung yang terdapat pada setiap kategori jurnal. Sebab, tiap jurnal memiliki selingkung yang berbeda. Hal tersebut merupakan ilmu mendasar dalam publikasi ilmiah yang diramu pada manajemen publikasi.
“Dasar-dasarnya harus dipahami. Manuskrip, artikel, dan jurnal itu berbeda. Manajemen publikasi ilmiah alurnya mulai dari kajian atau penelitian. Lalu, ke publikasi. Proses di publikasi ini mulai dengan mencari tempat publikasi hingga memperhatikan etika publikasi. Waspada juga jangan sampai terjebak jurnal predator abal-abal,” imbuhnya.
Merespon hal tersebut, Rektor Widyatama, Prof. Dadang Suganda mengatakan, jurnal memiliki implikasi terhadap kebutuhan pribadi yang berdampak pada jabatan fungsional, reputasi riset akademik dan lembaga, serta membuka peluang untuk para dosen mendapatkan kesempatan yang lain. Selain itu, dengan adanya riset, para dosen mampu menciptakan referensi pembelajaran baru yang lebih relevan dengan kondisi saat ini.
“Teori-teori dari luar negeri itu memang banyak yang bagus, tapi tidak semuanya koheren dan kohesif dengan kondisi di Indonesia. Sebab, alamnya, lingkungan, sosial, ekonomi, dan ruang pemikirannya berbeda, maka teori harus mengakar. Dampak dari teori yang mengakar adalah implikasi dinamika yang berkelanjutan,” ucap Dadang.
Sementara itu, Narasumber Workshop Publikasi Artikel Ilmiah, Ervina CM. Simatupang mewanti agar para peserta tak patah arang jika artikelnya ditolak mentah-mentah oleh reviewer dan editor.
“Tiga tahun lau artikel saya ditolak di Jurnal Q1. Tapi, ternyata pagi ini saya baru dapat undangan lewat e-mail untuk jadi reviewernya,” aku Ervina.
Maka dari itu, ia berpesan agar para peserta perlu terus belajar dan memahami perkembangan. Cari topik yang sedang ‘in’ atau relevan dengan kondisi saat ini.
Sebab baginya, jika telah berlelah-lelah dalam mencoba dan akhirnya berhasil, ada keasikan sendiri yang muncul setelahnya.
“Ada rasa bangga dan jadi asik saat kita meneliti. Caranya agar bisa mudah lolos jurnal, silakan baca 3-4 artikel yang sudah dirilis sebelumnya. Biar kita tahu hal-hal apa yang harus diperhatikan dari struktur artikel ilmiah yang di accept oleh para reviewer dan editor,” bebernya.
“Kalau artikel lain pakai bagan, maka coba kita buat juga sesuai dengan artikel kita agar lebih mudah tergambarkan dan tervisualisasikan, sehingga menjadi lebih indah,” lanjut Ervina
Menurutnya benchmark yang tepat dapat membantu para penulis dalam menyusun artikel ilmiah. Selain itu, para penulis juga sering-sering berdiskusi dengan dosen-dosen lain untuk mendapatkan ide.